Kecintaan seorang ibu tidak luntur manakala melihat anak-anaknya beranjak dewasa. Memulai hidup baru dengan pasangannya. Walaupun
dimakan usia, memori seorang ibu sangat terjaga. Seorang ibu selalu
ingat bagaimana kedua tangan yang senantiasa memandikan anak-anaknya
dikala pagi dan petang. Matanya yang selalu terjaga ketika panas dan
demam mendera anak-anaknya. Menceritakan kisah epik kepahlawanan yang
entah berapa kali ia bacakan sebagai pengantar tidur dipengujung malam.
Nilai-nilai
kepahlawanan seperti itulah yang dapat dengan mudah kita temukan di
rumah. Nilai-nilai pengorbanan, keikhlasan dan kejujuran. Dengan segala
upaya terbaik yang telah dilakukan oleh seorang ibu tentunya kita tidak
mau menjadi anak-anak yang zhalim kepadanya. Kita semua berharap
terhindar dari kesulitan-kesulitan karena secuil kesalahan yang kita
lakukan terhadap ibu kita sendiri. Seperti disebutkan dalam sebuah
kisah, bagaimana seorang sahabat yang bernama al-Qomah mengalami
kesulitan ketika sakaratul maut. Al-Qomah menghadapi masalah besar,
seolah Malaikat mempermainkan nyawanya. Atas kejadian itu, Nabi Muhammad
Saw kemudian memanggil ibunya agar ia mau datang menemui dan memaafkan
kesalahan yang dilakukan al-Qomah. Setelah sang ibu menemui dan
memaafkan, maka lancarlah kematian al-Qomah.
Tanpa kita sadari,
seorang ibu sebenarnya sedang mempersiapkan kita semua untuk menjadi
penerusnya. Menjadi pahlawan bagi anak-anak kita kelak. Tidak ada kata
terlambat untuk memulai kebaikan dan cita-cita besar itu. Menjadi
pahlawan yang akan selalu dikenang. Mulailah dengan memohon maaf atas
segala kesalahan kepada kedua orang tua kita, selanjutnya adalah menjaga
agar ibu tetap selalu tersenyum.

